
Titik Mulai: Labuan Bajo
Trekking menembus hutan hujan Manggarai, Flores, untuk mencapai Wae Rebo — desa terpencil dengan hanya 7 rumah adat berbentuk kerucut (Mbaru Niang) yang berdiri di ketinggian 1.200 mdpl. Pada 2012, UNESCO memberikan Award of Excellence for Cultural Heritage Conservation atas pelestarian rumah adat berusia ratusan tahun yang dibangun tanpa paku ini. Jalur trekking sepanjang 8 km dari Desa Denge menanjak melintasi hutan lebat selama 3-4 jam sebelum akhirnya desa "di atas awan" ini terlihat, tempat Anda akan disambut dengan upacara adat Waelu dan bermalam di rumah komunal bersama penenun dan petani kopi lokal.


* Itinerary ini dibuat sebagai panduan dan dapat berubah disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kondisi aktual di lapangan.
Trekking dari Desa Denge ke Wae Rebo menempuh jarak sekitar 8 km melintasi hutan hujan dengan kenaikan elevasi sekitar 600 m. Kebanyakan wisatawan menyelesaikannya dalam 3-4 jam, dengan tiga pos istirahat di sepanjang jalur. Gunakan sepatu trekking yang kokoh karena beberapa bagian jalur cukup menanjak dan bisa licin.
Wae Rebo hanya memiliki 7 rumah adat berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang, yang dibangun tanpa satu pun paku menggunakan teknik yang diwariskan turun-temurun. Pada 2012, UNESCO memberikan Award of Excellence for Cultural Heritage Conservation atas pelestarian bangunan berusia ratusan tahun ini oleh masyarakat setempat. Berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, desa ini sering disebut "desa di atas awan".
Tidak ada sistem kuota resmi atau pemesanan di muka — pemandu akan mendaftarkan rombongan Anda kepada tetua desa saat tiba. Pengunjung membayar kontribusi desa (umumnya sekitar Rp325.000 untuk menginap semalam), yang biasanya diatur oleh operator tur atau dibayar langsung di lokasi.
Musim kemarau, sekitar April-Oktober, memberikan kondisi jalur trekking yang lebih stabil dan pemandangan gunung yang lebih jelas. Meski begitu, Wae Rebo berada di dataran tinggi dan hujan bisa turun kapan saja sepanjang tahun, jadi jaket hujan tetap wajib dibawa di musim apa pun.
Sepatu trekking tertutup yang kokoh, jaket hujan atau ponco, pakaian hangat untuk malam yang dingin di dataran tinggi, senter kepala atau senter biasa, uang tunai untuk kontribusi desa, serta botol minum yang bisa diisi ulang. Porter tersedia untuk membawa tas bermalam Anda, tapi simpan barang berharga dan kebutuhan penting di tas kecil yang dibawa sendiri.
Tamu yang menginap tidur di dalam salah satu rumah adat Mbaru Niang, di area tidur bersama yang ditinggikan dengan kasur dan selimut yang disediakan. Tidak ada listrik atau kamar pribadi — pengalaman yang sederhana dan komunal ini justru menjadi bagian istimewa dari menginap di desa.
IDR 1.850.000/orang
~$116
Perjalanan darat dari Labuan Bajo ke Desa Denge, titik awal trekking Wae Rebo, memakan waktu sekitar 5-6 jam, dilanjutkan trekking hutan selama 3-4 jam. Kebanyakan tour membagi perjalanan ini dalam 2 hari, dengan menginap dekat Denge sebelum memulai trekking pagi keesokan harinya.
Trekking ini tergolong cukup menantang: jalur menanjak sepanjang 8 km dengan medan hutan yang tidak rata dan beberapa bagian yang cukup terjal, biasanya memakan waktu 3-4 jam. Tidak diperlukan keterampilan panjat teknis, dan tiga pos istirahat membantu memecah pendakian, namun tidak disarankan untuk wisatawan dengan keterbatasan gerak, anak kecil, atau yang sama sekali belum pernah trekking.